Pengiriman gratis ke seluruh Indonesia

Java Preanger, 'A Cup Of Java' yang Mendunia
Java Preanger, 'A Cup Of Java' yang Mendunia
by Anita Fitriany

Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia menduduki sebagai produsen kopi terbesar di dunia pada urutan keempat setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Menjadi salah satu produsen kopi terbesar bukanlah sesuatu hal baru bagi Indonesia. Rupanya, rekam jejak Indonesia berkecimpung dalam industri kopi ini sudah terjadi sejak Indonesia dikuasai oleh kolonial Belanda, yaitu tahun 1696. Maka, tak heran jika hingga saat ini Indonesia memiliki produksi kopi dengan rata-rata 639 ribu ton per-tahun (72,84 persen kopi robusta dan 27,16 persen kopi jenis arabika).

Lalu, kopi apa yang terkenal pada saat itu?

Pulau Jawa menjadi jajakan pertama masuknya kopi di Indonesia. Mendengar wilayahnya, tak jauh pada bahasan kami kali ini adalah Kopi Java Preanger. Ya, kopi ini menjadi kopi yang terkenal pada saat itu, bahkan hingga saat ini. Karena, kopi tersebut menjadi saksi sejarah masuknya kopi di Indonesia. Melalui Java Preanger ini, istilah 'A Cup of Java' muncul.

Sejarah Java Preanger

Java Preanger menjadi kopi Indonesia yang bersejarah yang berawal dari sistem tanam paksa di abad ke 17. Nama Preanger digunakan oleh orang Belanda ketika menyebut daerah Priangan yang berada di kawasan Pegunungan Malabar, Jawa Barat.

Saat itu, Pemerintah Belanda melihat adanya potensi di tanah Jawa, terutama kawasan Priangan. Lalu, mereka membangun dan mengembangkan perkebunan kopi di Indonesia yang nantinya akan diekspor ke Belanda dan negara Eropa lainnya.

Awalnya, Walikota Amsterdam, Nicholas Witsen di tahun 1696 meminta komandan pasukan Belanda di Malabar, Adrian Van Ommen untuk membawakan bibit kopi Arabika ke Indonesia.

Sayangnya, bibit kopi yang dibawa tersebut mengalami gagal panen yang diakibatkan oleh banjir. Lalu, upaya Pemerintah Belanda untuk mengembangkan kopi di Indonesia pun dilakukan kembali pada 1699.

Percobaan pertama dilakukan di Pondok Kopi, Batavia. Melihat keberhasilan yang terjadi, Pemerintah mulai mendirikan dan mengembangkan perkebunan kopi di kawasan Priangan, Jawa Barat.

Mulai Mendunia

Keberhasilan dalam mengembangkan perkebunan kopi terlihat dari penyebaran lahan kopi di seluruh Pulau Jawa di tahun 1750. Penyebaran biji kopi Indonesia pertama dilakukan pada 1711. Ekspor pertama dilakukan dari Jawa ke Eropa yang melibatkan organisasi perdagangan milik Belanda atau yang dikenal sebagai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

VOC mulai melakukan monopoli perdagangan kopi di tahun 1725 hingga 1780. Sejak saat itulah Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia

Saat itu, VOC membuat sebuah perjanjian yang mewajibkan kaum pribumi untuk menanam kopi dan hasilnya harus diserahkan pada VOC. Sistem ini dikenal sebagai Koffiestelsel (Sistem Kopi).

Kualitas biji kopi Indonesia yang dihasilkan pun tidak mengecewakan konsumen, terlebih untuk wilayah Eropa. Kopi dari tanah Jawa yang kita kenal sebagai Java Preanger tersebut begitu terkenal di Eropa.

Saking terkenalnya, masyarakat Eropa kerap menyebutnya 'A Cup of Java' dan tidak lagi menyebutnya 'A Cup of Coffee' ketika meminum kopi. Terhitung hingga abad ke-19, Java Preanger menjadi kopi terbaik di dunia.

Java Preanger kerap ditanam di ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut sesuai dengan karakteristik kopi arabika. Penyebaran perkebunan Java Preanger sendiri meliputi beberapa wilayah yang namanya sekarang sudah tidak asing bagi penggemar kopi spesialti seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Malabar, Gunung Caringin, Gunung Halu, Gunung Patuha, Gunung Tilu, Gunung Beser, Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu, serta Gunung Manglayang.

Varietas Java Preanger

Biji Kopi Java Preanger berasal dari tanaman kopi jenis Arabika yang ditanam di ketinggian lebih dari 1000 mdpl. Wilayah tersebut termasuk ke dalam wilayah iklim dan tanah yang cocok untuk membudidayakan kopi jenis Arabika.

Bibit yang ditanam memikirkan prinsip ekologis yang memperhatikan lingkungan, serta menggunakan pupuk organik dengan konsep pertanian Low Eksternal-Input and Sustainable Agriculture (LEISA).

Adapun varietas kopi Arabika yang dilestarikan adalah varietas Ateng, Linea 795, Sigararutang, Kartika, Timtim, serta Andung Sari. Java Preanger menjadi kebanggaan bagi Indonesia, khususnya Jawa Barat. Keberhasilan pada Kopi Java Preanger ini pun kemudian mulai muncul kopi dari berbagai daerah, seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Kepulauan Timor.




Also in Gordi Blog

Liquid error (line 334): internal
5 Kopi Daerah Yang Harus Anda Coba Ketika Traveling

Menikmati sajian kopi tidak hanya bicara soal kopi spesialti saja. Sebagian masyarakat masih menikmati dan mempertahankan eksistensi dan cita rasa kopi olahan tradisional yang diracik menggunakan bahan tambahan lainnya. Uniknya, di setiap wilayah...
Cara Menikmati Kopi Saat Mudik
Cara Menikmati Kopi Saat Mudik

Saatnya mempersiapkan diri untuk mudik lebaran! Pakaian, transportasi, uang, dan kopi! Kopi adalah elemen yang tidak bisa dilewatkan oleh penikmat kopi di mana pun berada. Ada beberapa cara untuk menikmati secangkir kopi hitam saat...
Memilih Waktu Minum Kopi di Bulan Puasa
Memilih Waktu Minum Kopi di Bulan Puasa

Memasuki bulan puasa, beberapa penikmat kopi sulit menentukan waktu untuk menikmati kopi. Ada yang memilih sebelum batas waktu sahur, setelah berbuka puasa dan setelah tarawih atau di atas jam 9 malam. Namun, ternyata tidak semua...