Pengiriman gratis ke seluruh Indonesia

Secangkir Kopi Kawa Daun Meninggalkan Kisah
Secangkir Kopi Kawa Daun Meninggalkan Kisah
by Gordi Team

Pernahkah Anda mendengar sajian kopi, namun bukan berasal dari kopi? Ya, sekilas terdengar aneh, namun ini dirasakan oleh masyarakat Minangkabau. Kopi tersebut dikenal sebagai kopi daun atau kawa daun. Bagi mereka, kopi kawa daun bukanlah wedang biasa. Tak hanya biji kopi pada umumnya, kopi kawa daun ini juga memiliki cerita tersendiri. Masyarakat Minangkabau tidak sekadar menikmati kopi dalam tiap seruputannya, melainkan mengingat kilas balik cerita dari kopi kawa daun.

Cerita ini berkaitan erat dengan masa kolonial Belanda. Kala itu, Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki perkebunan kopi yang luas. Seluruh biji kopi yang ditanam oleh para petani lokal di tanah Sumatera kala itu dikirim ke Belanda.

Apakah para petani lokal mendapatkan bagian? Semua biji kopi hasil panen diserahkan ke Belanda. Mereka hanya melakukan sesuai yang diperintahkan kolonial Belanda yang mana pada waktu itu merupakan sistem tanam paksa, namun masyarakat kelas bawah tidak mendapat bagian kopi. Keinginan masyarakat Minangkabau saat itu untuk menikmati secangkir kopi harus dipendam. Namun, akhirnya mereka menemukan cara untuk menyiasatinya, penduduk meracik secangkir kopi dengan menggunakan daun kopi. Sehingga, dari kurun waktu ke waktu, minum kopi dari daun kopi adalah budaya yang kerap dijaga hingga saat ini. Dulu, hampir seluruh masyarakat di Minangkabau memiliki kebun kopi hingga 3 hektar per keluarga.

Untuk menikmati secangkir kopi kawa daun, petani kopi memilih daun kopi yang terbaik. Daun kopi kemudian diseduh dengan ditambahkan gula tebu. Dalam keadaan panas, kopi dituang ke dalam wadah yang dibuat dari batok kelapa yang dibelah menjadi dua bagian, kemudian ditambahkan potongan bambu sebagai tatakan wadah. Ini menjadi salah satu cara menikmati kopi daun. Hal tersebut pun atas dasar filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau saat itu yang kehidupannya serba susah, tidak ada gelas kaca, maupun gula pasir. Warung kopi kawa daun saat ini mudah ditemui di area Kota Padang, tepatnya di sepanjang perjalanan dari Batusangkar menuju Kota Bukittinggi.

Bagaimana Cara Meraciknya?

Tidak seperti kopi pada umumnya yang perlu dilakukan pengolahan pasca panen, kopi kawa daun ini memiliki cara pengolahan yang berbeda. Untuk menyeduh kopi tersebut, dibutuhkan daun kopi berwarna kekuning-kuningan (hampir gugur). Setelah melalui proses pemetikan daun, maka dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari sekitar 1 jam. Setelah itu, daun kopi yang sudah dikeringkan tersebut dapat dikeringkan di atas tungku perapian.

“Lho, kok dikeringkan lagi? Apakah tidak cukup sekali saja?”

Tidak, karena jika daun kopi tersebut langsung dikeringkan di atas perapian, maka cita rasa yang dihasilkan akan berbeda. Ketika daun kopi dikeringkan di atas tungku perapian, diharapkan tidak dilakukan begitu lama. Hal tersebut dilakukan agar daun kopi dapat disimpan untuk beberapa hari kedepan. Ketika ingin diseduh, daun kopi tersebut harus dalam keadaan kering seperti bubuk teh.

Cara penyajian kopi kawa daun ini juga terbilang unik. Kala itu penduduk lokal yang ingin menikmati kopi kawa daun layaknya menikmati secangkir soju Korea. Bagaimana tidak, kopi yang baru saja dituang ke dalam wadah batok harus habis dalam satu tegukan. Jika Anda kurang suka dengan rasa original, Anda dapat meminta tambahan susu kepada penjaja kopi kawa daun.


Sudut Pandang Lain

Perihal cerita sajian masyarakat Minangkabau tersebut ternyata menuai pandangan berbeda. Seperti yang dilansir dalam Kompas.com, menurut seorang pakar sejarah Prof. Gusti Asnan dari Universitas Andalas, Sumatera Barat mengatakan bahwa budaya minum kopi kawa daun sudah ada sebelum Belanda masuk. Biji kopi mulai dikenal ketika akhir abad ke-18, tepatnya sejak saudagar Amerika datang membeli biji kopi. Pada titik itulah masyarakat Minangkabau menyadari nilai biji kopi yang tinggi. Kemudian, Belanda masuk di abad ke-19 dan belum masuk ke Kawasan Minangkabau.

Melihat cerita tersebut, tanam paksa tidak dapat dijadikan sebagai alasan pertama kalinya budaya meminum kopi kawa daun terjadi. Dapat dikatakan bahwa sebelum belanda masuk ke Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau sudah mengenal kebiasaan minum kopi kawa daun.

Bagi Anda yang sedang traveling ke Sumatera Barat, tidak ada salahnya untuk mampir sejenak ke warung kopi kawa daun di kawasan Kota Baru, Padang dan Bukittinggi untuk mencicipi kopi kawa daun dan eksplorasi rasa. Apakah lebih mirip rasa teh atau kopi? Penasaran bukan?



Also in Gordi Blog

Memilih Waktu Minum Kopi di Bulan Puasa
Memilih Waktu Minum Kopi di Bulan Puasa

Memasuki bulan puasa, beberapa penikmat kopi sulit menentukan waktu untuk menikmati kopi. Ada yang memilih sebelum batas waktu sahur, setelah berbuka puasa dan setelah tarawih atau di atas jam 9 malam. Namun, ternyata tidak semua...
Perbedaan Single Origin dan House Blend Yang Perlu Kamu Ketahui
Perbedaan Single Origin dan House Blend Yang Perlu Kamu Ketahui

Jika Anda sering mengunjungi kedai kopi terdekat atau di mana pun, maka tak jarang Anda akan melihat menu kopi single origin dan house blend. Sebenarnya, apa itu single origin? Lalu, apa...
Benarkah Bisa Menguruskan Badan Dengan Minum Kopi?
Benarkah Bisa Menguruskan Badan Dengan Minum Kopi?

“Mengonsumsi kopi bisa turunkan berat badan?” Tak jarang hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan bagi seseorang setelah bertanya solusi untuk menurunkan berat badan, kemudian dijawab dengan mengonsumsi kopi. Apa yang menyebabkan kopi dapat menurunkan...